WISE mengadakan training needs analysis

Oleh Adithya Asprilla

Peran anggota tim WISE akan lebih efektif ketika pelatihan pembelajaran sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. [Pada foto ini, tim proyek sanitasi di Phnom sedang mempersiapkan wawancara dengan warga Desa Phnom untuk menerimasubsidi pembangunan kakus 📸 Andry Hamida (Juli 2018)]

Setiap organisasi pasti ingin mengembangkan kemampuan anggotanya agar dapat bekerja lebih efektif. Hal tersebut yang menjadi latar belakang WISE dalam mengadakan training needs analysis (TNA), sebagai bagian dari program pembelajaran internal. Program ini bertujuan untuk membantu menciptakan sarana pembelajaran yang efektif bagi anggota WISE. Saat ini WISE sedang mengembangkan kurikulum untuk pembelajaran internal yang nantinya dapat sejalan dengan hasil TNA tersebut.

“TNA adalah proses yang mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan pelatihan. Organisasi sendiri memiliki dana yang terbatas. Maka, sangat penting bagi organisasi mengetahui apa kebutuhan yang paling diperlukan agar dapat membantu anggotanya. Dari situ, organisasi baru bisa mengembangkan dan mendanai pelatihan,” jelas anggota tim, Nicholas Boon. Kurikulum akan menjadi lebih efisien dan produktif saat WISE mengetahui apa kebutuhan anggotanya.

WISE pun menganggap pembelajaran lewat kurikulum tersebut sangat penting. Mengingat organisasi ini bermaksud untuk membangun kompetensi anggotanya dalam mengembangkan kemampuan agar dapat menopang aktivitas WISE. Rancangan TNA sendiri dapat menghubungkan apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan anggota, organisasi, dan cara penyampaian lewat sistem pembelajaran internal tersebut. Faktor ketiganya dapat menjadi fondasi yang kuat untuk pengembangan pembelajaran di masa yang akan datang. Ini pun akan tetap relevan baik untuk anggota maupun organisasinya.

Cara kerja TNA sendiri seperti mengerjakan proyek riset di mana data yang dikumpulkan langsung diperoleh dari setiap anggota. Nicholas pun tidak sendiri, tim pembelajaran ini dikepalai oleh anggota inti WISE, salah satunya Lim Sojiwin. Tim pembelajaran tersebut nantinya akan menganalisis data melaporkan hasil dari temuan riset TNA ke anggota inti WISE. Menurut Nicholas, sejauh ini hasil riset dari berbagai responden sudah terkumpul dengan hasil data yang beragam.

“Semakin jelas jangkauannya, hasil yang diperoleh akan lebih baik. Biasanya TNA dilakukan dengan target yang jelas seperti sektor industrial, keseluruhan organisasi, departemen tertentu pada organisasi, atau peran yang spesifik di organisasi. Untuk TNA kali ini, kami memutuskan untuk melakukannya pada keseluruhan organisasi agar pelatihan dapat dikembangkan untuk seluruh anggota. Terlepas dari peran dan posisi mereka,” tambah Nicholas.

Nantinya, data-data tersebut akan digunakan untuk mengoptimalkan pelatihan bagi anggota WISE. Ini juga berguna untuk mengetahui aspek apa saja yang anggota WISE ingin pelajari dan pelatihan seperti apa yang dapat membantu mewujudkannya. Tim inti dari WISE akan mengambil tanggung jawab dalam pengembangan materi pembelajaran dan menyediakan kesempatan yang sesuai keahliannya. Nicholas tidak menutup kemungkinan adanya bantuan dari pihak eksternal yang memiliki pengalaman dalam aspek pembelajaran tersebut.

Untuk saat ini, kurikulum pembelajaran dan materinya masih dalam pengembangan. Ketika berbicara soal pengembangan, Nicholas melihat ada tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam mengontekstualisasikan materi pembelajaran mengingat anggota WISE memiliki beragam keahlian dan latar belakang budaya. Meski begitu, adanya bantuan anggota dalam mengecek dan menerjemahkan material pembelajaran dapat membantu menyelesaikan tantangan ini.

Adithya Asprilla, penulis berasal dari UNV Online Volunteering Service. This article is also available in English.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *